![]() |
| Gambar: Tong sampah yang tak digunakan semestinya oleh masyarakat (Foto: Ulfa Khairina) |
“Ni you dai zi ma?” Pertanyaan
itu kerap diajukan oleh penjual atau kasir ketika berbelanja. Arti dari kalimat
tersebut “Apakah Anda mau plastic?”. Pertanyaan itu diajukan ketika si kasir
sedang menginput semua belanja dalam mesin kas. Ketika kita menjawab “bu you” atau “tidak mau”, maka jemari
si kasir segera menekan tombol enter. Sebaliknya, jika kita menjawab dengan
kata “you” atau “mau”, maka si kasir
akan menekan sejumlah angka di mesin kasir. Apabila dirupiahkan, jumlahnya
tentu tidak sedikit.
Di beberapa
negara di dunia, penggunaan plastik sudah mulai dibatasi. Mungkin saja kita
sering menonton televisi atau drama, film asing. Ketika adegan berbelanja, si
pembeli tidak lagi mengambil plastik. Setelah menerima barang dan mengambil
uang kembalian, si pembeli berlalu begitu saja sambil menenteng belanjaan yang
hanya satu atau dua buah.
Begitu juga
di China, sejak pemberlakuan larangan menggunakan kantong plastik pada tahun
2008, plastik mulai dibatasi di negara ini. Hal ini dimaksudkan agar masyarakatnya
senantiasa menjaga lingkungan dan tidak sembarangan membuang sampah plastik.
Apabila berbelanja
dengan jumlah besar di satu toko, pertanyaan tersebut tidak diajukan. Mereka
akan dengan sukarela memberikan kantung plastik kepada pembeli. Tapi plastik
yang diberikan itu tidaklah sama seperti yang sering kita dapat di tanah air.
Plastik yang diberikan lebih tipis, seakan dengan memasukkan satu benda saja
sudah jebol. Warnanya hanya satu, bening transparan. Kalaupun ada plastik yang
berwarna warni dan tercetak merek toko atau brand
sebuah produk itu jarang sekali ditemukan. Kualitasnya juga tidak lebih baik.
Tipis sekali.
Ketika
membeli pakaian, tas atau sepatu di toko-toko, penjualpun tidak memberikan
kantong plastik kepada pelanggan. Pihak toko akan memberikan kantong yang
terbuat dari kain tisu tipis dan cepat sobek. Selain ukurannya lebih besar,
kesannya lebih eksklusif.
Berbelok
dari alasan kenapa di negara China tidak memberikan plastik. Beberapa sumber
menyebutkan bahwa China adalah negara yang sudah sadar akan pelestarian
lingkungan. Masyarakat mulai mentaati membuang sampah pada tempatnya, seperti
membuang sampah organik dan non organik pada tempat sampah yang telah
disediakan. Hal ini dilakukan karena dari pihak pemerintah sendiri sudah melakukan
penegasan bagi masyarakat untuk melindungi alam. Apabila terjadi pelanggaran,
tak segan-segan untuk memberikan sanksi.
Hal ini
tentu baik untuk dicontoh di negara sedang berkembang seperti Indonesia. Di
Aceh sendiri sampah-sampah plastik masih banyak tercecer di tepi jalan, taman,
bahkan ikut ‘berenang’ di aliran sungai. Kebanyakan dari masyarakat belum
menyadari dampak negatif yang ditimbulkan oleh sampah plastik itu.
Sampah plastik,
bukan hanya sulit diuraikan. Proses penguraiannya sampai ratusan tahun. Terkadang
banyak masyarakat yang mengambil inisiatif dengan cara membakar sampah plastik.
Tanpa kita sadari, pembakaran sampah plastik juga menyebabkan efek negatif
lainnya.
Pembakaran
sampah plastik secara tidak langsung akan mengurai di udara sebagai dioksin.
Dioksin merupakan istilah umum dipakai untuk kelompk bahan kimia yang
berstruktur mirip dan memiliki reaksi yang sama. Dioksin ini timbul sebagai
produk sampingan dari berbagai proses industry yang melibatkan klorin pada
pabrik pestisida, pulp, kertas,
plastic dan lain-lain. Dioksin dikenal sebagai senyawa yang sangat beracun dan
penyebab pencemaran lingkungan yang sangat berbahaya. Apabila zat tersebut
dihirup akan berdampak pada pemicu penyakit kanker, gangguan sistem saraf,
pernapasan, hepatitis, pembengkakan sampai depresi.
Sekilas kita
memang tidak disadari bahwa plastic bisa menyebabkan kematian lebih cepat.
Dengan berpikir praktis, memusnahkan sampah plastic dengan membakar jauh lebih
cepat daripada didaur ulang. Plastic yang didaur ulangpun tidak semudah mendaur
ulang kertas bekas. Selain proses yang dibutuhkan lama juga memakan biaya yang
tidak sedikit.
Dewasa ini,
masih kurang kesadaran untuk memisahkan antara sampah organic dengan non
organic. Kebanyakan cara membuang sampah selain membuang ke Tempat Pembuangan
Akhir (TPA), tentu sampah akan dikubur di belakang rumah atau tanah kosong.
Satu hal yang sering luput dari perhatian, sampah-sampah itu tidak dipisahkan.
Sampah
plastic yang yang ikut tertimbun tanah akan menghambat pertumbuhan tanaman.
Yang lebih mengerikan, hewan-hewan pengurai seperti cacing akan mati. Dampak
yang ditimbulkan tidak hanya pada sepetak lahan tempat sampah plastic
dikuburkan, tetapi juga pada sumber kehidupan manusia, yaitu air.
Matinya
hewan pengurai di dalam tanah, tumbuhan hijau yang tidak lagi berkembang dengan
baik adalah salah satu gejala siklus air mulai terhambat. Tumbuhan hijau tidak
lagi menghirup racun dari udara. Sementara manusia sangat membutuhkan air. Bagaimana
air bisa tersimpan, apabila tidak ada akar-akkar tanaman yang mengikatnya di
dalam tanah?
Cara
pembuangan sampah di aliran sungai juga tidak dibenarkan. Hal ini karena
tumpukan sampah plastik di dasar sungai bisa menyebabkan banjir. Air juga tidak
bisa memproses sampah plastic yang terkumpul di dasar sungai. Tetapi malah
menghambat proses alirannya.
Bagaimana
agar kita sedikit diet kantung plastic?
Meskipun
tidak seperti di negara-negara lain yang mulai tidak menggunakan plastic. Namun
dapat dimulai dari sendiri dengan cara menolak kantung plastic ketika
berbelanja. Apalagi jika plastic itu tidak terlalu dibutuhkan.
Nah, hal
inilah yang cukup sulit diterapkan saat ini. Menurut survei yang dilakukan oleh
sebuah situs yahoo, kesadaran dalam penolakan kantong plastic masih sangat
minim. Dari tiga point yang diberikan sebagai opsi, kebanyakan responden tidak
bisa meninggalkan kantong plastic kecuali dengan tiga hal berikut: Pertama, 32% menjawab tidak menggunakan
lagi kantong plastic apabila tidak disediakan lagi oleh toko, reteller atau
pedagang. Kedua, 19% menjawab kantong plastic akan ditinggalkan jika konsumen
diharuskan membayar dengan jumlah tertentu. Ketiga,
sebanyak 3% menjawab akan meninggalkan kantong plastic jika disediakan
hadiah.
Dapat
disimpulkan bahwa ada gejala masyarakat akan meninggalkan penggunaan kantong
plastic secara berlebihan. Tetapi harus ada penagasan yang kuat dari pihak
berwenang. Strategi yang diterapkan oleh pemerintahan China dan masyarakatnya
menjadi salah satu motivasi untuk masyarakat kita dalam menjaga lingkungan dari
bahaya limbah plastic. Apalagi jika kita sadar, produksi plastic mengorbankan minyak
bumi sebanyak 2 juta liter pertahun untuk memproduksi.
Jika
negara-negara maju yang kerap menjadi impian untuk dituju sudah diet kantong
plastic. Tentu negara tempat kita bernaung bisa juga menjadi impian jika kita
tahu menjaga dan melestarikannya.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar