Selasa, 13 November 2012

Opini: "Diet Plastik Untuk Lingkungan Sehat" (Oleh: Ulfa Khairina)


Gambar: Tong sampah yang tak digunakan semestinya oleh masyarakat
(Foto: Ulfa Khairina)

“Ni you dai zi ma?” Pertanyaan itu kerap diajukan oleh penjual atau kasir ketika berbelanja. Arti dari kalimat tersebut “Apakah Anda mau plastic?”. Pertanyaan itu diajukan ketika si kasir sedang menginput semua belanja dalam mesin kas. Ketika kita menjawab “bu you” atau “tidak mau”, maka jemari si kasir segera menekan tombol enter. Sebaliknya, jika kita menjawab dengan kata “you” atau “mau”, maka si kasir akan menekan sejumlah angka di mesin kasir. Apabila dirupiahkan, jumlahnya tentu tidak sedikit.

Di beberapa negara di dunia, penggunaan plastik sudah mulai dibatasi. Mungkin saja kita sering menonton televisi atau drama, film asing. Ketika adegan berbelanja, si pembeli tidak lagi mengambil plastik. Setelah menerima barang dan mengambil uang kembalian, si pembeli berlalu begitu saja sambil menenteng belanjaan yang hanya satu atau dua buah.

Begitu juga di China, sejak pemberlakuan larangan menggunakan kantong plastik pada tahun 2008, plastik mulai dibatasi di negara ini. Hal ini dimaksudkan agar masyarakatnya senantiasa menjaga lingkungan dan tidak sembarangan membuang sampah plastik.

Apabila berbelanja dengan jumlah besar di satu toko, pertanyaan tersebut tidak diajukan. Mereka akan dengan sukarela memberikan kantung plastik kepada pembeli. Tapi plastik yang diberikan itu tidaklah sama seperti yang sering kita dapat di tanah air. Plastik yang diberikan lebih tipis, seakan dengan memasukkan satu benda saja sudah jebol. Warnanya hanya satu, bening transparan. Kalaupun ada plastik yang berwarna warni dan tercetak merek toko atau brand sebuah produk itu jarang sekali ditemukan. Kualitasnya juga tidak lebih baik. Tipis sekali.

Ketika membeli pakaian, tas atau sepatu di toko-toko, penjualpun tidak memberikan kantong plastik kepada pelanggan. Pihak toko akan memberikan kantong yang terbuat dari kain tisu tipis dan cepat sobek. Selain ukurannya lebih besar, kesannya lebih eksklusif.

Berbelok dari alasan kenapa di negara China tidak memberikan plastik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa China adalah negara yang sudah sadar akan pelestarian lingkungan. Masyarakat mulai mentaati membuang sampah pada tempatnya, seperti membuang sampah organik dan non organik pada tempat sampah yang telah disediakan. Hal ini dilakukan karena dari pihak pemerintah sendiri sudah melakukan penegasan bagi masyarakat untuk melindungi alam. Apabila terjadi pelanggaran, tak segan-segan untuk memberikan sanksi.

Hal ini tentu baik untuk dicontoh di negara sedang berkembang seperti Indonesia. Di Aceh sendiri sampah-sampah plastik masih banyak tercecer di tepi jalan, taman, bahkan ikut ‘berenang’ di aliran sungai. Kebanyakan dari masyarakat belum menyadari dampak negatif yang ditimbulkan oleh sampah plastik itu.

Sampah plastik, bukan hanya sulit diuraikan. Proses penguraiannya sampai ratusan tahun. Terkadang banyak masyarakat yang mengambil inisiatif dengan cara membakar sampah plastik. Tanpa kita sadari, pembakaran sampah plastik juga menyebabkan efek negatif lainnya.

Pembakaran sampah plastik secara tidak langsung akan mengurai di udara sebagai dioksin. Dioksin merupakan istilah umum dipakai untuk kelompk bahan kimia yang berstruktur mirip dan memiliki reaksi yang sama. Dioksin ini timbul sebagai produk sampingan dari berbagai proses industry yang melibatkan klorin pada pabrik pestisida, pulp, kertas, plastic dan lain-lain. Dioksin dikenal sebagai senyawa yang sangat beracun dan penyebab pencemaran lingkungan yang sangat berbahaya. Apabila zat tersebut dihirup akan berdampak pada pemicu penyakit kanker, gangguan sistem saraf, pernapasan, hepatitis, pembengkakan sampai depresi.

Sekilas kita memang tidak disadari bahwa plastic bisa menyebabkan kematian lebih cepat. Dengan berpikir praktis, memusnahkan sampah plastic dengan membakar jauh lebih cepat daripada didaur ulang. Plastic yang didaur ulangpun tidak semudah mendaur ulang kertas bekas. Selain proses yang dibutuhkan lama juga memakan biaya yang tidak sedikit.

Dewasa ini, masih kurang kesadaran untuk memisahkan antara sampah organic dengan non organic. Kebanyakan cara membuang sampah selain membuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tentu sampah akan dikubur di belakang rumah atau tanah kosong. Satu hal yang sering luput dari perhatian, sampah-sampah itu tidak dipisahkan.

Sampah plastic yang yang ikut tertimbun tanah akan menghambat pertumbuhan tanaman. Yang lebih mengerikan, hewan-hewan pengurai seperti cacing akan mati. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya pada sepetak lahan tempat sampah plastic dikuburkan, tetapi juga pada sumber kehidupan manusia, yaitu air.

Matinya hewan pengurai di dalam tanah, tumbuhan hijau yang tidak lagi berkembang dengan baik adalah salah satu gejala siklus air mulai terhambat. Tumbuhan hijau tidak lagi menghirup racun dari udara. Sementara manusia sangat membutuhkan air. Bagaimana air bisa tersimpan, apabila tidak ada akar-akkar tanaman yang mengikatnya di dalam tanah?

Cara pembuangan sampah di aliran sungai juga tidak dibenarkan. Hal ini karena tumpukan sampah plastik di dasar sungai bisa menyebabkan banjir. Air juga tidak bisa memproses sampah plastic yang terkumpul di dasar sungai. Tetapi malah menghambat proses alirannya.

Bagaimana agar kita sedikit diet kantung plastic?

Meskipun tidak seperti di negara-negara lain yang mulai tidak menggunakan plastic. Namun dapat dimulai dari sendiri dengan cara menolak kantung plastic ketika berbelanja. Apalagi jika plastic itu tidak terlalu dibutuhkan.

Nah, hal inilah yang cukup sulit diterapkan saat ini. Menurut survei yang dilakukan oleh sebuah situs yahoo, kesadaran dalam penolakan kantong plastic masih sangat minim. Dari tiga point yang diberikan sebagai opsi, kebanyakan responden tidak bisa meninggalkan kantong plastic kecuali dengan tiga hal berikut: Pertama, 32% menjawab tidak menggunakan lagi kantong plastic apabila tidak disediakan lagi oleh toko, reteller atau pedagang. Kedua, 19% menjawab kantong plastic akan ditinggalkan jika konsumen diharuskan membayar dengan jumlah tertentu. Ketiga, sebanyak 3% menjawab akan meninggalkan kantong plastic jika disediakan hadiah.

Dapat disimpulkan bahwa ada gejala masyarakat akan meninggalkan penggunaan kantong plastic secara berlebihan. Tetapi harus ada penagasan yang kuat dari pihak berwenang. Strategi yang diterapkan oleh pemerintahan China dan masyarakatnya menjadi salah satu motivasi untuk masyarakat kita dalam menjaga lingkungan dari bahaya limbah plastic. Apalagi jika kita sadar, produksi plastic mengorbankan minyak bumi sebanyak 2 juta liter pertahun untuk memproduksi.

Jika negara-negara maju yang kerap menjadi impian untuk dituju sudah diet kantong plastic. Tentu negara tempat kita bernaung bisa juga menjadi impian jika kita tahu menjaga dan melestarikannya.***